saya tulis ini, sambil merasa berat sekali di hati, perjalanan hidup yang kulalui selama 7 bulan ini sangat lah berat sekali,
sejak toko Ariegypsum Jalan Jatinegara barat no 66 dibongkar, saya kesulitan sekali mencari uang, sehingga unag tabungan perlahan lahan mulai habis, harta benda juga sudah di jualin sedikit demi sedikit.
sampai sekarang belum ada titik terang lagi, kepala saya pusing dan stress, badan pun jadi melar, hahahahaha
saya membuka sebuah toko gypsum lagi di Jalan jatinegara timur no 34, mengandalkan langganan, karena kondisi disini tidaklah sama dengan toko lama, benar benar sepi, sehingga untuk membayar 3 orang pegawai saja saya harus nombok, belom lagi pengeluaran harian
+- yang telah saya habiskan selama 7 bulan ini 170 juta rupiah, itu uang dari hasil ngumpulin selama buka toko gypsum yang pertama, sedih rasanya, saya ngumpulin 1-5jt /bulan dan harus habis hanya dalam 7 bulan,
saya tidak pernah merasakan hal seperti ini sepanjang hidup saya, saat saya merintis gypsumn langsung diberikan hasil yang banyak
memang ini sudah perjalanan hidup saya dan keluarga saya,
saya sekarang sedang merintis bisnis CENDOL saya beri nama CENDOLSIN, baru buka tanggal 18 Desember 2014, dengan hasil yang lumayan sehingga saya bisa memakai pegawai untuk menjaga stand Cendol saya, dan membuka satu cabang lagi di dalem pasar jatinegara, tapi apa daya, responnya di dalam pasar tidak lah sebagus yang utama, sehingga masih nombok untuk itu,
sekarang cendol utama saya di berikan cobaan lagi, sebelah toko cendol saya ada toko es Cone, dan langganan langganan saya pada pindah semua kesana, karena harga saya 7000,- es cone saja 3000,-
pusing sekali, bukannya tidak untung, tetap cendol saya masih untung, hanya berkurang karena kena hantaman pengusaha es cone yang harganya benar2 murah..
saya bingung kenapa ini bisa terjadi sekarang saya hidup hanya dari tabungan yang cepat atau lambat akan habis,
kasihan istri dan anak saya.
TAPI SAYA TIDAK AKAN PUTUS ASA...
Selama masih ada TUHAN di hati saya, saya akan bisa melalui semuanya dengan baik,
anak saya JACINDA ADRIAN adalah anak yang periang ceria dan penyayang, juga dia anak yang pintar, saya sayang dan sangat mencintai dia, anak saya sumber semangat saya, disaat saya lelah, dia begitu semangatnya mijitin dan ajak main saya, saat mereka tidur saya hanya melihat wajah mereka dan meminta maaf, bahwa 7 bulan ini adalah bulan yang begitu sulit untuk saya dan keluarga, banyak perubahan perubahan besar dalam hidup dia,
begitu juga istri saya
Istri saya LUSIANA adalah ISTRI yang HEBATT!!!
Saya yakin seyakin yakinnya bahwa dialah yang menjadi penyemangat saya,
memang kadang dia DOWN atas kejadian ini, tapi di rela juga harta miliknya saya gunakan untuk keperluan hidup kami sekeluarga, dan tidak mengeluh sama sekali, tapi saya berjanji, jika saya bisa bangkit lagi akan saya berikan 3x lipat dari pada yang saya ambil.
saya hanya Bisa berdoa YA TUHAN. tolong bantu keluarga kecil saya ini, berikanlah saya dan keluarga jalan keluar, agar saya bisa mencukupi kebutuhan keluarga saya,
saya sempat marah sama TUHAN, karena membuat keadaan saya jadi begini, tak terhitung lagi segala daya dan upaya saya kerahkan untuk menyetabilkan kondisi saya
tetapi hasilnya masih lebih besar pasak dari pada tiang
Tetapi saya sadar, tidak ada gunanya marah pada TUHAN, mungkin ini sudah perjalanan hidup saya, dan masih diberikan kekuatan dan kesabaran yang sangat besar, dan mengirimkan ISTRI dan ANAK yang luar biasa menjadi pendamping hidup saya
SAYA AKAN KELUAR DARI MASA SULIT INI... SAYA YAKIN ATAS NAMA MU TUHAN YESUS KRISTUS JURU SELAMAT
Sunday, February 15, 2015
Sunday, February 8, 2015
MIND SET
Langkah Mengubah Hidup dari Kuli jadi Pengusaha
Paradigma yang sudah terlanjur di masyarakat kita adalah :” Putus sekolah jadi kuli” . Kalimat ini bahkan di copy oleh jutaan orangtua
Maksudnya mungkin baik, yakni untuk memotivasi agar anak anak mau melanjutkan studi mereka di Perguruan Tinggi. Tetapi tanpa sadar, kalimat yang selalu menjadi “jimat” para orang tua ini, bisa menjadi boomerang bagi anak anak yang putus sekolah. Karena dalam benak mereka sudah tertanam dan bertumbuh kembang, sebuah benih negatif ,yakni :” karena mereka putus sekolah, maka satu satunya jalan adalah menjadi kuli”
Padahal kalau mau membuka cakrawala berpikir kita dan melihat kesekeliling ,bahwa sebagian terbesar orang orang sukses di Indonesia, bukanlah orang yang menyandang berlapis lapis gelar. Melainkan orang orang biasa,yang memiliki keberanian dan tekad yang luar biasa.
Langkah langkah yang harus di tempuh adalah :
- Memiliki hasrat dan tekad untuk mengubah hidup
- Mau bekerja keras dan cermat
- Mengamati setiap peluang untuk bisa maju
- Pegang teguh kejujuran
- Fokuslah pada apa yang dicita citakan
Tanamkan pada diri, bahwa hidup tidak akan berubah, bila kita tidak berniat mengubahnya.
Sukses Bisa di Raih dari Berbagai Sisi
Sukses berarti bisa membahagiakan keluarga. Orang yang sukses dalam studinya dan mendapat gelar Doktor, tapi keluarganya morat marit, tidak dapat dikatakan sukses. Kendati sukses tidak identic dengan kaya, tetapi kemiskinan bukanlah gambaran dari sebuah kesuksesan
Tukang Roti Keliling Jadi Pemilik Pabrik Roti
Kami mengenal seorang anak muda, nama Ari , asal dari Pulau Bali. Merantau dalam usia 36 tahun ke Pulau Lombok dan bekerja serabutan selama 2 tahun, namun karena tidak mencukupi kebutuhan hidup,sementara ia sudah berkeluarga. Mencoba berjualan roti dengan mengendarai sepeda.
Dalam suatu acara sosial,kami bertemu Ari di Mataram. Ia bercerita tentang morat maritnya kehidupan ,Dari pagi hingga malam mengitari kota Lombok, keluar masuk gang,menjajahkan rotinya, namun hasilnya sangat minim. Saya mencoba memberikan motivasi ,bahwa saya sudah mengalami hidup morat marit sewaktu masih muda, namun sekarang sudah bisa menikmati hidup layak. Saya sarankan pada Ari , agar ia mencoba memperluas jaringan untuk bisa memasarkan rotinya lebih banyak. Karena kalau ia tetap berkeliling naik sepeda, maka kemungkinan besar,seumur hidup ia akan jadi pedagang roti keliling.
Saran saya pada Ari, agar ia menitipkan roti di tiap kedai yang ada di daerah kediamannya. Cukup 5 buah roti satu tempat. Kalau ada 20 kedai berarti , kesempatan untuk rotinya terjual adalah 20 kali kesempatan, daripada ia sendiri yang berkeliling kota,
Ternyata Ari mengikuti saran saya dan dalam waktu dua minggu kemudian menelpon dengan berbesar hati, bahwa tiap kedai rotinya terjual minimal 3 biji sehari, berarti ada 20 x 3 = 60 buah roti, terjual dalam satu hari. Luar biasa, padahal menurut Ari, selama ia berjualan keliling paling banter cuma laku 15 buah sehari.
Tahun lalu ketika kami berkunjung ke Mataram, Ari minta ijin untuk menjemput kami. Suatu surprise yang luar biasa, kami dijemput dengan mobil Honda Freed yang masih baru ,Dibawa kepabrik rotinya ,dimana ada 40 orang karyawannya. Bahkan begitu besar rasa terima kasihnya, kamar hotel kami dilunasi oleh Ari tanpa setahu kami dan kemudian selama 2 hari ,kami dijemput untuk makan siang dan malam.
Yang membuat kami ikut bersyukur,tentunya bukan karena ditraktir makan dan biaya hotel, tapi menyaksikan kesuksesan yang luar biasa Dari tukang roti keliling, sekarang jadi pengusaha dan pemilik pabrik roti, Padahal Ari tidak tamat SMA.
Bila Motivasi kita bisa mengubah Hidup Orang Lain
Oleh karena itu, saya semakin termotivasi untuk menulis, setidaknya tulisan saya mampu membuka tirai, untuk orang lain mendapatkan jalan untuk mengubah hidupnya. Tanpa sama sekali merasa berjasa,selain rasa syukur,bahwa saya sudah dapat mengisi hidup dengan hal yang bermanfaat bagi orang lain.
Mengubah cara berpikir Mengubah Jalan Hidup
Menyimak kisah hidup Ari yang berubah total,sesungguhnya tidak ada yang istimewa, Saya hanya memberikan sebuah sentuhan , agar Ari mengubah cara berpikirnya. Yakni, :”daripada berjualan roti sendirian, lebih baik ada 20 orang yang ikut menjualkan”
Sederhana, namun telah membuka cakrawala berpikir Ari. Mengubah cara berpikir,akan mengubah tindakan, Ia tidak lagi menjual roti sendirian, tapi menerapkan sesuai saran saya, ternyata memang benar, Hasil kerja dari 20 orang, pasti lebih banyak daripada berjualan seorang diri.
Catatan Penulis’
Tulisan ini bukan imajinasi dan bukan juga sebuah karangan, melainkan diambil dari contoh kehidupan nyata, putus sekolah, bisa jadi pengusaha. Saran bagi yang putus sekolah, jangan berkerja hanya dengan otot, tapi gunakanlah akal budi. Tidak rumit, seperti contoh. Logika yang sangat sederhana, 20 orang menjual, pasti lebih banyak hasilnya dari pada 1 orang. Walaupun keuntungan harus berbagi.
Semoga dari tulisan sederhana ini, dapat dipetik manfaatnya. Kalau Ari, yang SMA saja tidak tamat bisa sukses, mengapa anda tidak?
Mount Saint Thomas, 7 Agustus 2014
Subscribe to:
Comments (Atom)
